Tri's posts with tag: travel

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Photo Albumciptagelar (27 photos)Aug 4, '08 5:59 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
kali ini saya nggak nulis di blog tentang perjalanan saya ke ciptagelar...gapapa ya??? jadi poto2nya aja deh yang cerita.

Photo Album6 Jam di Wamena (13 photos)Jul 15, '08 10:47 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Blog Entry6 Jam di WamenaJul 15, '08 4:45 AM
for everyone

Sebenernya saya hampir males nyeritain perjalanan ke Wamena ini karena pengalaman 6 jam nggak akan bisa mewakili Wamena secara keseluruhan, karena perjalanannya kurang merakyat (abis naek mobil mulu), karena saya dibawa ke kampung wisata (yang semuanya serba komersil), dan karena apa yang saya temuin di sana nggak membuat saya bangga. Tapi karena seorang teman, yang lagi sangat pengen ngasih komentar, memaksa saya untuk nulis dan karena nggak banyak orang yang pernah ke Wamena maka akhirnya saya putuskan untuk nulis sebagai bentuk syukur (halahh! gaya!).

Pertama kali nginjek Bandara Wamena, langsung ketahuan deh bedanya Jayapura sama Wamena. Kalo di Wamena, penduduk asli dan babi hutan bisa diliat di mana-mana. Baru deh sekarang saya bener-bener bisa bilang kalo saya udah pernah ke Papua. Jayapura mah nothing! Hehehe…

Selain penampakannya yang berbeda dengan Jayapura, perasaannya juga beda nih, dingin!! Brrrrrrrr……(maap saya berlebihan). Tapi bener kok dingin (atau karena saya sampe sana pagi2 ya?), Bandung mah nothing!! Hohoho…Herannya, dengan suhu yang dingin gitu,masih ada aja orang tua sana (maksud saya orang yang tua beneran) masih semangat make koteka kemana-mana. Merhatiin saya yang terpana ngeliat koteka sedang digunakan untuk pertama kalinya, bapak2 di sebelah saya (mari kita sebut beliau sebagai Pak D) nyeletuk, “Tri, tutup mata!!” ups….

Sedangkan anak mudanya udah pake baju warna-warni, warna2 Jamaika gitu deh. Nah kalo warna-warni gitu kan mata saya jadi asik belanjanya.Hihihi….

Belum selesai saya menggelengkan kepala dalam hati (gimana coba caranya geleng kepala dalam hati?) karena peristiwa koteka tadi, tau2 saya sampai di sebuah pelataran parkir yang ternyata merupakan gerbang Kampung Kurulu, salah satu kampung yang sudah diresmikan jadi objek wisata Wamena. Tahukah Anda apa yang menyambut saya di sana???? Puluhan koteka yang lagi dipake! Gubrakk!!! Dan bonusnya…kostum kaum perempuannya juga setali tiga uang aja dengan bapak-bapaknya cuma kotekanya diganti sama rok. Si Pak D tadi bergumam, “wah ada yang masih kenceng”. Gantian dong gw serang balik, “Pak, tutup mata!!”.

Baru ngeliat kondisi kaya gitu aja sebenarnya hati ini sudah pedih sekali (melankolis mode on) tapi kemudian bagaikan menabur cuka ke luka orang, hati ini bertambah pedih saja, karena ternyata sang pengantar langsung negosiasi dengan kepala suku (yang sepertinya sudah sangat terbiasa) soal tarif foto-foto. Kesimpulannya 1 orang difoto, 1 kali jepret harganya 3000. Ternyata warga kampung ini memang selalu siap jadi foto model dengan “pakaian tradisional”nya. Miris. Kenapa ya mereka lebih suka topless supaya bisa dapat uang? Padahal baju mah mereka juga ada lho, kepala sukunya aja pake baju.

Saya termasuk orang yang senang motret orang lain, tapi gara-gara itu tadi, di kampung ini saya malah jadi males ngambil foto. Ada juga nenek-nenek yang saya potret, itu pun karena dia yang minta. Eh, salah satu nenek-nenek yang saya potret ternyata masih menganut tradisi memotong jari kalau kerabatnya ada yang meninggal. Liat deh tuh tangannya. Bisa dikira-kira kan udah berapa orang saudaranya yang meninggal?


Kampung Kurulu tentu ada sebabnya kenapa diresmikan jadi objek wisata. Selain foto modelnya yang alami, Kampung Kurulu juga masih menyimpan mumi kepala sukunya yang pertama. Katanya proses pengawetannya dengan cara diasap selama 3 bulan non-stop (ikan asap sih saya doyan, tapi kalau kepala suku asap?). Jadinya sekarang kepala sukunya sudah menyusut jadi kecil dan bisa digendong kemana-mana.  

Dari Kampung Kurulu saya dan kawan-kawan diantar ke Goa Wosi yang katanya dulu pernah jadi tempat tinggal suku primitif sebelum honai diciptakan (mungkin). Goa Wosi ini letaknya di atas bukit (sehingga jadi ada acara hiking sedikit) dan nggak terlalu jauh dari Kampung Kurulu tadi tapi bapak penjaganya walaupun bertelanjang dada udah pake celana boxer dong. Udah gitu bapak itu dan keluarganya sangat ramah dan happy-happy aja. Mereka pun nggak pernah minta bayaran atas apa pun selain memasuki daerah wisata itu.

Baru gitu aja tau-tau hari sudah siang dan saya harus balik ke Jayapura lagi karena pesawatnya jam setengah 2. Maka pulanglah kami semua. Dan nggak pernah saya duga, akhirnya saya kebagian juga kena palak di Papua. Pas mobil kami sedang melintasi jembatan, sekumpulan pemuda yang tadinya terlihat nongkrong di pinggir jembatan tau-tau nyegat kita. Salah satu orang yang matanya merah sambil ngangkat-ngangkat kaleng lem aibon dan mengaku sedang mabok minta uang ke supir kami. Setelah pake acara marah2 sebentar akhirnya supir kami ngasih 5000. Eh ternyata orang itu ngeliat ada orang non-pribumi di sebelah supir kita, “wah, ada tamu, tamu juga harus kasih uang” dan dia pun berjalan ke sisi lain mobil dan minta 5000 juga. Setelah dikasih 5000, kita pun tancap gas dan masalah selesai. Si Pak D mengeluarkan asumsinya, “ah, pura-pura mabok tuh, pinter banget dia.” (Orang Papua emang terkenal kreatip dah). Pura-pura atau nggak pura-pura, sekali lagi saya kesel, siapa sih yang ngajarin orang di tengah-tengah gunung gini untuk mabok lem??????

Perjalanan mengejar pesawat pun dilanjutkan, wush..wush..wush…(maksudnya ngebut)…et..et..et….tar dulu, sepertinya di sebelah kanan ada yang menarik, yak belok kanan. Percaya nggak kalau nemu salju? Nih buktinya.

Ini kan Jayawijaya. Orang yang mau menuju Puncak Trikora naeknya dari sini lho. Tetep gak percaya ya?

Hehehe..emang bukan salju, itu kayanya pecahan batu kapur. Tapi lumayanlah buat nipu. Hohoho…

So folks, cuma segitu aja cerita saya kali ini. Kurang seru ya? Maap, makanya…hadiahi saya paket perjalanan keliling Indonesia dong!

 

 

 

 

 





Photo Albumsawarna (50 photos)Dec 26, '07 10:00 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Libur 20-26 Desember kemarin saya manfaatkan untuk kabur dari kota, and the destination was Sawarna. Buat sebagian orang, khususnya surfer dan backpacker, mungkin udah nggak asing lagi nama ini, tapi buat yang belum tau, Desa Sawarna itu letaknya di Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini langsung menghadap ke Samudera Hindia, makanya ombaknya yang gede-gede sering dipake surfer untuk latihan. Meskipun udah ditetapkan sebagai desa wisata namun sarana dan prasarana wisatanya belum memadai tuh. Tapi  karena sarana dan prasarananya belum memadailah yang menciptakan tantangan bagi perjalanan saya dan kawan-kawan kemaren. Nanti saya ceritain mengapa, tapi sebelumnya perlu saya informasikan bagaimana cara mencapai Sawarna, sesuai pesan orang Sawarna yang ingin desanya lebih dipromosikan.

Dari Jakarta untuk mencapai Sawarna bisa lewat Rangkasbitung-Malingping-Bayah atau lewat Bogor-Pelabuhan Ratu-Bayah. Kalau saya kemaren berangkatnya lewat Rangkasbitung, pulangnya lewat Pelabuhan Ratu biar adil. Dari Jakarta ke Rangkasbitung bisa naik bis dari Kalideres jurusan Rangkasbitung, ongkosnya saya gak tau karena kemaren berangkatnya dari rumah temen di Serpong. Kalo dari Serpong ke Terminal Rangkasbitung sih ongkos bisnya Rp 15ribu. Baru mau masuk terminal Rangkasbitung jangan kaget kalo tau-tau ada orang yang loncat ke bis dan nanyain tujuan kita selanjutnya, karena bisa jadi dia kondektur elp jurusan Bayah yang lagi nyari penumpang. Dia siap bersedia bawain tas kita sampe ke elp-nya, gratis. Tapi naek elp-nya nggak gratis, sampe terminal bayah  bayarnya Rp 30ribu seorang. Jaraknya?? Ah, tinggal merem juga nyampe, tapi meremnya 5 jam!! Tips naek elp ke Bayah: pilihlah tempat duduk di jendela demi kesegaran nafas Anda, karena nanti di perjalanan elp itu akan dimuati penumpang 2 kali lipat dari kapasitas seharusnya, kalau bisa duduklah di jendela sebelah kanan, karena nanti pemandangan lautnya akan ada di sebelah kanan, kecuali kalau datangnya dari Pelabuhan Ratu tentunya laut akan ada di sebelah kiri. Selain itu, usahakan tas Anda anti air atau lindungi barang-barang di dalamnya dengan plastik, karena kalau naik elp, tas akan ditaro di atas kap mobil,  kalo ujan nggak nanggung.

Selama tidur menuju Bayah, lagu nina bobo yang akan sering Anda dengar adalah: “tarahu..tarahu..tarahu..” (tahu..tahu..tahu..). Yap, elp-nya akan sering berhenti karena supirnya harus silaturahmi dengan handai taulan sepanjang perjalanan, dan setiap berhenti itulah para tukang asongan yang dagang tahu akan ngerubungin elp. Jadi nggak usah takut kelaparan sepanjang perjalanan menuju Bayah, tukang tahu siap melayani Anda.

 

Dari terminal Bayah tinggal naek ojek, bilang aja Sawarna ke tukang ojeknya, pokoknya sok tau aja, trus tembak aja harganya dari Rp 10ribu-20ribu. Dari terminal ke sawarna makan waktu kurang lebih 10 menit dengan pemandangan yang mantap dan wisata ojek yang tak kalah mantap pula. Kalau beruntung, tukang ojek pun bisa ngasih prolog untuk liburan kita, dibawa ngebut, menukik di kemiringan 60°, sambil diceritain tempat-tempat wisata yang ada di Sawarna, plus menikmati hutan perhutani yang menjadi gerbang Sawarna.

Btw, sebelum naek ojek, tukang ojeknya akan bertanya, “Sawarnanya mana?” maka akan lebih baik jika Anda sudah tahu akan menginap di mana. Kalo saya kemaren langsung nyebut nama sakti, “Pak Hudaya”, nggak ada yang nggak kenal mantan lurah selama 18 tahun ini deh. Bapak ini biasa menerima turis di rumahnya, baik turis lokal maupun impor. Selain menyediakan kamar, istrinya Pak Hudaya juga mau menyediakan makanan 3 kali sehari, jadi sekali lagi, jangan takut kelaparan. Masalah tarif, kalo ditanya ke Bapak dan Ibu Hudaya berapa harganya, mereka akan menjawab, “terserah”. Sepertinya kebanyakan orang Sawarna masih polos, baik hati, dan selalu menerima segalanya dengan ikhlas, karena pas saya nanya ke pemandu kami berapa harga yang dia minta, dia juga jawab, “terserah”. Jadi kira-kira aja ya sendiri. Yang pasti biaya saya liburan di Sawarna kemaren selama 2 malam ditambah ongkos-ongkosnya nggak lebih dari Rp 300ribu.

Selain rumahnya Pak Hudaya masih banyak homestay-homestay yang disediakan penduduk, bahkan kalau mau gratis pun ada, di pesantren.

Keluar dari hutan perhutani tadi, pantai pasir putih yang lebar dan barisan pohon kelapa yang rapi di sebelah kanan, perbukitan di sebelah kiri, dan kerbo-kerbo di tengah jalan jadi panitia penyambutan kedatangan kami di Desa Sawarna. Kebun kelapa di pinggir pantai tadi dulu pertama kali dibuat oleh Mr. (sesuatu) Van Gogh, yang katanya masih ada keturunan Van Gogh yang pelukis tea’.

Untuk urusan jalan-jalan selama di Sawarna saya mengandalkan Pak Mustofa, anaknya yang punya pesantren, guru bahasa inggris untuk siswa SD di sawarna, yang rumahnya di depan rumah Pak Hudaya. Karena kami ber-3, Pak Mustofa memilihkan motor sebagai moda transportasi kami, kalau Anda mau pergi rame2, tentunya moda transportasinya adalah...jalan kaki. Hehehehhe....percuma lah naek mobil juga, gak ada jalannya. Nah, seperti yang saya bilang di atas tadi, ketiadaan sarana dan prasarana jadi tantangan, ketiadaan jalan membuat saya dan kawan-kawan dibawa off-road sama Pak Mustofa cs. Kapan lagi saya naek motor di atas pematang sawah, nerabas ilalang, nyebrang sungai kecil, dan naek bukit dengan kemiringan  60° yang cuma dari tanah, licin pula. Pada akhirnya nyusruk juga sih saya ke semak-semak. Jatoh ke sawah juga pernah. Dan pake acara dorong motornya pula untuk keluar dari genangan lumpur. Tapi jangan kuatir, kejadian ini cuma terjadi pada saya, 2 temen saya yang lain cukup beruntung mendapatkan supir calon-calon pembalap off-road  yang ahli.

Tujuan wisata kami selama di Sawarna adalah caving di Goa Lauk dan Goa Lalay, Pantai Legon Pari, Tanjung Layar, Pantai Ciantir, Pantai Pulau Manuk dan Hutan Perhutani. Sebenernya masih ada satu Goa lagi di Sawarna, namanya Goa Langir, tapi goa ini kayanya berbahaya karena terhubung dengan laut, jadi kalo laut pasang, goa ini terendam air laut, ditambah lagi tukang ojek saya waktu dari terminal bayah yang nyeritain kasus di goa langir maka saya nggak berminat dan nggak merekomendasikan pada Anda untuk maen-maen di sana.

Goa Lauk letaknya paling jauh dan paling sulit dijangkau dari penginapan. Motor pun nggak bisa menjangkau, jadi emang harus bertualang, jalan kaki. Perjalanan menuju Goa Lauk mengingatkan saya waktu ospek dulu, jalan di pematang sawah yang ekstra licin (ingat, saya ke sana pada bulan desember, musim hujan!),  hiking, merosot-merosot di tanah, dan bahkan lebih parah dari ospek, kemarin kami harus menghadapi kemiringan 80°, nggak bisa nggak, jurus spiderman harus dikeluarkan!! Dan manjatlah gue dengan berpegangan pada batu-batu dan pohon. Dan yang lebih parah, lagi-lagi karena ketiadaan sarana dan prasarana yang menciptakan tantangan, ketika ketemu sungai selebar 10 meter yang arusnya dikit lagi bisa dijadiin modal buat rafting, lemes lah dengkul ketika saya nggak menemukan jembatan!!! Ketika Pak Mustofa bilang, “kita akan menyeberangi sungai ini”, semua bereaksi, “EMANG NGGAK ADA JALAN YANG LAEN?????” bahkan sampe akhir perjalanan pun pertanyaan kami tersebut tidak  pernah mendapatkan jawaban positif. Akhirnya dengan tekad bulat setengah gila kami menyeberangi sungai itu satu per satu dengan ditemani 3 orang pemandu kami itu. Sampe di seberang sungai, dengan kaki masih gemeteran karena kencangnya arus tadi kami melanjutkan perjalanan yang masih jauh bener. Lagi-lagi, kita nggak akan kelaparan di Sawarna, selama perjalanan ada aja buah-buahan yang bisa kita petik trus makan dengan cuma-cuma, pisang, kelapa, atau salak.

Akhirnya, setelah 1 jam perjalanan, kami bertemu dengan mulut Goa Lauk yang tersohor itu (taela..). Goa Lauk punya 2 mulut, satu di atas, satu di bawah, kalo mulut yang di bawah tergenang air setinggi paha. Dengan bermodalkan cuma  SATU lampu badai kami pun memasuki Goa Lauk dari mulut atas yang kering. Pemandangan di goa tentunya adalah stalagtit dan stalagmit yang masih dalam proses pembentukan, aroma di goa tentunya adalah bau kotoran kelelawar! (what do you expect gitu loh) aktivitas di goa tak lain tak bukan .......manjat-manjat lagi...merosot-merosot lagi. Sebenernya masih banyak ruangan-ruangan di Goa Lauk yang masih bisa dieksplor lagi, tapi harus turun vertikal ke bawah kira-kira sedalam 15 meter. Namun karena modal pemandu kita cuma satu lampu badai tanpa bawa tali, saya nggak mau mengulang lagi falsafah “ketiadaan sarana dan prasarana menciptakan tantangan” tadi di sini, no way!!! Akhirnya kita keluar goa melalui mulut bawah yang tergenang air setinggi paha tadi. Mengingatkan saya pada banjir februari 2007....hiks..hiks..hiks. Perjalanan kembali dari Goa Lauk masih tetap menyusuri jalan
kami datang tadi, untungnya kali ini kita menyeberangi sungai tadi pada titik yang arusnya lebih lemah, tapi tetep aja cukup kenceng sehingga bikin kami jalan miring 45°.

 

Setelah dari Goa Lauk kami menuju Goa Lalay, motor lagi-lagi diparkir di perkampungan terdekat, untungnya sungai kali ini udah ada jembatannya dan jalannya datar-datar aja. Goa Lalay secara keseluruhan terendam air setinggi betis dan lumpur tebal makanya kami memutuskan untuk nyeker aja. Sumpe deh, nggak tau lumpur nggak tau kotoran kelelawar, tebel banget! Tingginya sampai melebihi pergelangan kaki. Stalagtit dan stalagmit di Goa Lalay udah nggak dalam proses pembentukan kaya Goa Lauk tadi. Unfortunately....baru beberapa puluh meter masuk, lampu kita udah meredup, daripada jadi penghuni tetap Goa Lalay kami pun putar balik. Tapi saya punya berita baik dari Goa Lalay!!! Sebelumnya tumit kaki saya pecah-pecah (ya ampun, malu deh), tapi setelah diterapi lumpur/kotoran kelelawar Goa Lalay tadi ...ajaib....tumit kaki saya mulus kembali!!!!!!whuahahahahaha. Sayangnya hal ini baru saya sadari setelah saya tiba di penginapan dan bersih-bersih. Coba saya sadarnya begitu keluar Goa Lalay, pasti udah saya bawa pulang lumpurnya sekarung trus saya bisnisin, masker lumpur untuk kaki dengan merk LALAY dengan cap kelelawar!! Cukup sekali oles bo’!!!!

Setelah mandi, cuci-cuci baju, celana, dan sepatu, makan, dan shalat, kami melanjutkan wisata lagi ke Pantai Legon Pari. Untuk mencapainya kita wisata off-road yang seperti saya sebutkan tadi. Tau serem gini mendingan jalan kaki aja dah, tapi apa daya, kaki juga udah lemes gara2 perjalanan menuju Goa Lauk tadi. Setibanya di pantai, jreng..jreng...kecewalah kita. Apes bener dah, pantainya banyak sampah, nggak seperti yang diberitakan orang-orang yang pernah ke sana. Sampah yang banyak di pantai itu umumnya SENDAL!!! Sendal dari berbagai ukuran dan merk ada di pantai, niscaya kalo semua dikumpulin, gw bisa buka toko sendal. Setelah diusut, ternyata gw dateng pada musim yang salah. Dasar bodoh, musim hujan kok malah dateng ke pantai. Udah langitnya mendung, keujanan mulu, gelombang pasang laut akan membawa sampah-sampah laut ke pantai termasuk pantai di sepanjang Sawarna. Jadi sendal-sendal tadi? Diperkirakan milik korban tenggelam di laut. Then I had goosebumps. Jadi sodara-sodara, jangan ulangi kebodohan saya yang mengunjungi pantai pada bulan Desember.

Wujud pantai legon pari terdiri dari batu-batu besar dan terumbu-terumbu karang yang sudah mati, namun di beberapa lokasi terdapat kolam-kolam kecil yang masih memiliki terumbu hidup dan beberapa ikan-ikan kecil di dalamnya.

Dari legon pari kami berjalan kaki menyusuri pantai menuju Tanjung Layar. Di Tanjung Layar terdapat 2 bongkah batu ukuran jumbo yang berbentuk layar kapal. Ombak Samudera Hindia yang besar tidak menghalangi keinginan beberapa orang untuk berenang di Tanjung Layar, karena pantai ini dilindungi beting karang sehingga ombak pecah di barisan karang tersebut sebelum mencapai pantai. Untuk menikmati keindahan keseluruhan Tanjung Layar dapat dilakukan di saung di atas bukit di tepi pantai ini. Untuk mencapainya kita dapat menaiki puluhan anak tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan, tapi sesampainya di atas, kita bisa melepas lelah di saung sambil menikmati pemandangan luasnya Samudera Hindia, Desa Sawarna, dan ditemani
burung-burung yang sibuk terbang kesana kemari.

 

Setelah bosan dengan perpantaian di Bulan Desember, kami kembali bermotor menuju Perhutani. Harus diakui pengalaman bermotornya lebih breathtaking daripada di hutannya. Silakan coba sendiri. Di hutan ini ternyata Mandra pernah mencoba shooting film Tarzan kota, rumah pohon buatannya masih berdiri di sini. Namun kata Pak Mustofa shooting di sana gagal dibuat karena Mandra tak kunjung dapat ilham.

Biar katanya udah bosan dengan pantai, tapi tetap saja, pantai tidak bisa dihindari di Sawarna, maka kami menuju Pantai Pulau Manuk yang memang menghadap Pulau Manuk. Alkisah Pulau Manuk dulu merupakan tempat penawanan para Romusha pada zaman penjajahan Jepang  dulu yang dipekerjakan di pertambangan batubara.

Pantai ini relatif lebih ramai dibandingkan Pantai Legon Pari, Tanjung Layar, dan Pantai Ciantir. Di pantai ini pula dimana hutan langsung menghadap ke laut. Jadi kalau diperhatikan dengan seksama maka Anda akan dapat melihat gerombolan monyet di balik semak-semak yang bergoyang.

Karena cuaca yang tidak bersahabat, kaki yang sudah gempor, dan bayangan pekerjaan yang menanti, maka kami memutuskan untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Seperti yang telah saya sebutkan tadi, kami pulang melalui Pelabuhan Ratu, dari Sawarna kami bernotor lagi ke Terminal Bayah dan dari sana naik elp jurusan Pelabuhan Ratu dengan ongkos Rp 15ribu dan lama perjalanan hanya 2 jam. Kembali saya sarankan untuk ambil tempat duduk di jendela, dan kembali di sebelah kanan, karena lautnya ada di sebelah kanan lagi. Tiba di Terminal Pelabuhan Ratu saya menyambung naik bis jurusan bogor, bis AC tarifnya Rp 20ribu dan sampai di bogor dalam waktu 3 jam.

Btw, kalau mau tau nomor kontak pak hudaya sang pemilik penginapan dan pak mustofa sang pemandu wisata, silakan japri saya saja. Gratis!

 

 

 


Blog Entryhihihi..papua lagiDec 26, '07 1:20 AM
for everyone

Ternyata kesempatan dateng ke papua datang untuk yang kedua kalinya...hehehehehe... walaupun masih cuma ngunjungin Jayapura dan Manokwari tapi kali ini di Manokwari saya sempet-sempetin dateng ke tempat-tempat wisata potensialnya walau cuma punya waktu 4 jam sebelum pulang lagi ke Jakarta.

Kalau ke Manokwari dan ingin jalan2 saya udah menetapkan langganan, namanya Matias, asal Numfor. Dia udah biasa nganterin turis-turis dari lokal sampe mancanegara, bahasa Inggrisnya oke-lah, secara jurusan D3-nya English for tourism. Untuk wisata keliling kota Manokwari atau daerah sekitarnya yang nggak jauh-jauh amat biasanya dia cuma ngenain tarif 50ribu per jam (kalo perginya rame-rame jatohnya jadi murah kok). Kalo untuk wisata yang agak jauh seperti ke pegunungan Arfak atau daerah pedalaman lainnya, tentunya tarifnya akan jadi beda, kalo mau tau paket-paketnya, japri aja ke saya, ntar saya forward-in e-mail penawaran paket wisata dari dia.


Jam 7 pagi Matias menjemput saya di penginapan dan kita langsung meluncur ke luar kota tepatnya ke Danau Kabori. Meskipun letaknya di pinggir jalan, danau ini masih bersih dan bening sekali, yang dateng emang jarang, soalnya belum ada fasilitas wisata sama sekali di sekitar danau. Tapi kayanya enak mancing di sini, suasananya tenang dan akan ditemenin suara burung-burung yang ramai sekali.

 

Menurut Matias, sebenernya ada danau yang lebih menawan lagi yang letaknya di dataran tinggi, namanya Danau Anggi, di sana ada dua danau yang oleh penduduk dinamakan danau laki-laki dan danau perempuan. Tapi karena waktu saya cuma 4 jam (!!!), saya terpaksa merelakan Danau Anggi dan berbalik arah menuju Hutan Gunung Meja. Hutan ini terletak di lingkungan Universitas Negeri Papua (Unipa) yang biasa digunakan oleh mahasiswa-mahasiswa Unipa untuk penelitian. Walaupun di hutan ini udah dibangun jalan aspal (tapi ancur) kira-kira selebar 3 meter sehingga bisa dilalui mobil, Matias mengajak saya jalan kaki untuk menikmati hutan ini dan kendaraan mengikuti kami dari belakang. Diiringi lagu-lagu Michael Learns to Rock dari angkot (supir angkotnya melankolis juga ya) saya pun mulai menikmati hutan seluas 5 Ha ini. Begitu saya turun dari angkot saya langsung disambut dengan kupu-kupu beraneka warna dan ukuran! Kupu-kupunya terbangnya cepat banget, jadi sangat susah untuk didokumentasikan, saudara-saudara. Cuma yang lagi mendarat ini yang  berhasil saya orbitkan di sini.

 


Selain kupu-kupu tentunya ada burung (yang cuma kedengeran suaranya, wujudnya nggak jelas), laba-laba hutan (saya nggak tau nama spesies  ini ada apa nggak, saya cuma ngarang, yang jelas laba-laba kaya gini gak pernah saya liat di kota), kaki seribu (Matias nyebutnya laen, tapi saya lupa dia nyebutnya apa, yang jelas hewan ini kakinya banyak trus badannya bisa melingker), dan uler yang saya gak mau merhatiin lebih lama lagi bentuknya, refleks kabur bo’!

 

Kalo soal tumbuhan, yang banyak tumbuh tentunya pohon matoa yang tinggi-tinggi, dan di deket pucuk pohon itu biasanya ditumbuhi anggrek, karena letaknnya tinggi jadi saya nggak bisa motret bunganya (maap ya para pecinta anggrek),tapi saya berhasil motret daunnya kok, jadi bisakah Anda menebak jenis anggreknya???

 

 
Di puncak, Matias menunjukkan kepada saya tugu peringatan kekalahan Jepang pada perang dunia II yang dibuat oleh pemerintah Jepang pada tahun 1956. Tadinya tugunya dibuat dari perunggu, tapi kata Matias abis itu perunggunya dipretelin orang, akhirnya diganti jadi pake batu aja. Sebenernya dari tugu ini bisa melihat seluruh Kota Manokwari, tapi karena semak-semak yang udah tinggi sekali saya jadi nggak bisa liat apa-apa. Sebagai ganti pemandangan, rekannya Matias, Leo yang sarjana kehutanan, bercerita tentang tentara Jepang nyasar yang pernah dia temui waktu kecil dulu. Jadi ada seorang tentara Jepang (nyebutnya apa sih? Nippon ya?) yang pada jaman PD II dulu terpisah dari pasukan trus bersembunyi ke dalam hutan sampe bartahun-tahun lamanya. Pas ditemukan penduduk pada tahun 80-an dengan rambut sepanjang rambut gadis sunsilk, kulit dekil, dan nggak bisa ngomong bahasa lain selain bahasa Jepang, dia masih takut-takut ngadepin orang. Kemudian didatengin lah penerjemah bahasa Jepang khusus dari Jakarta untuk ketemu dia, setelah ngerumpi-rumpi, diketahuilah bahwa dia kira dunia masih perang. Akhirnya tentara ketinggalan kereta itu pun dipulangkan ke keluarganya di Jepang.

 

Hari sudah mulai siang, saya harus segera kembali ke penginapan untuk bersiap-siap pulang, tapi yang namanya alam Papua (Barat) yang beda sama Jawa, saya nggak bisa nahan godaan untuk mampir dulu di puncak bukit memandangi kapal Pelni  yang akan masuk Pelabuhan, kapal yang kayanya jadi impian Leo untuk dinaikin, istirahat di pantai sambil minum air kelapa muda, baru pulang. 

 

Dasar apes, udah jalan-jalannya dipersingkat demi nggak ketinggalan pesawat jam 13.15, nggak taunya pesawatnya didelay sampe jam 17.30!!!!!! Sakit kepala gw.


Blog Entryfirst time to papua and west papuaNov 25, '07 7:02 AM
for everyone
waahhhhh....akhirnya gw jamah juga indonesia timur!! thanks  to  the state! hehehehe...kalo bukan karena kerjaan tentunya gak akan gw nyampe papua, kecuali kalo udah kelebihan duit.

waktu masih di langit papua (alias belum landing) udah ketahuan banget bedanya pulau ini sama pulau2 lain di Indonesia, dari atas udah keliatan bukit2nya yang gede-gede, hutannya yang rapet2, dan dikitnya jalan yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya. oleh karena itu, sodara-sodara....senekad-nekadnya gw yang demen jalan2 sendirian, kagak berani dah gw jalan sendirian di sini. kagak bakalan ada penunjuk jalan atau information center di dalem hutan.
selaen beda dari atas, waktu di darat pun Papua itu emang beda ama Jawa. Kalo di Jawa, hewan yang biasa keliaran di pinggir jalan biasanya kan ayam, kambing, kerbau, atau kucing, nah kalo di Papua hewan yang keliaran di pinggir jalan, BAHKAN DI TENGAH JALAN, adalah anjing dan BABI!!!! Bukan babi biasa aja, babi hutan juga ada yang mejeng di tengah jalan raya. Babi di tengah jalan itu yang bikin kita was-was, bukan karena takut diseruduk, tapi justru kita yang takut nabrak mereka, masalahnya kalo sampe tuh babi tewas, urusannya bakalan panjang, penduduk yang memiliki sang babi bakalan menuntut ganti rugi berupa uang, tuntutannya juga bukan tuntutan biasa, seperti yang gw bilang tadi urusannya bakalan panjang, tuntutan mereka itu selain ngitung kerugian berdasarkan harga babi yang tewas, mereka juga ngitung kerugian karena kehilangan potensi calon anak2 babi itu, calon cucu2nya, dan calon cicit2nya yang BELUM LAHIR!!! nahh....panjang kan urusannya????
ayo tebak, apa lagi perbedaan kasat mata antara papua dan jawa??? orang2 yang keliaran item2 keriting??? salah! malah banyak pendatang di sini. Semua orang2 yang berinteraksi ama turis macam gw ini malah bukan orang papua. yang ada orang jawa, sulawesi, atau maluku. Karena pendatang2 ini lah yang berprofesi sebagai supir taxi, resepsionis hotel, karyawan restoran, atau pedagang. Pada jadi apakah orang papua?? selain jadi pegawai pemda kebanyakan mereka jualan buah pinang yang biasa dipake kaya 'nyirih'. Lah...yang doyan ngemil pinang kan orang2 papua juga..ya kagak berinteraksi juga gw ama mereka, paling2 ama pegawai pemda gw ngobrolnya. Lain lagi kalo gw ke pedalaman, pasti yang akan terjadi adalah sebaliknya, tapi sayang disayang...saya cuma bisa ke jayapura (ibukota papua) dan manokwari (ibukota papua barat)..namanya juga kota...kagak ada yang berbau-bau eksotis.
banyak berinteraksi dengan pendatang yang lama tinggal di papua, gw diceritain soal kebiasaan,  tabiat, dan pola kerja orang asli papua yang membuat gw tau sebagian penyebab kenapa papua nggak maju-maju. Kagak enak juga gw nyebutya di sini. awalnya gw masih agak sangsi sama cerita mereka, maka gw mencari 2nd opinion, masih dari pendatang, tapi kali ini akademisi, tenaga ahli UNDP, staf ahli gubernur, yang notabene lebih berpendidikan dan mungkin bisa objektif. ternyata pendapatnya sama aja. malah antar suku yang berbeda juga menanggap negatif suku lainnya. capek deh.
Selesai berurusan dengan Bappeda Papua, siang hari saya nyewa mobil+supir untuk dianter ke perbatasan Papua-Papua Nugini. ternyata perjalanannya nggak lama cuma 1,5 jam karena jalan yang udah bagus. yah..jadi 2 jam lah..soalnya saya brenti2 mulu untuk motret2. sepanjang perjalanan menuju perbatasan lewat Koya ini pemandangannya keren2, ada Teluk Yotefa, hutan...hehehehe....baik yang ada di atas atau  di bawah, semuanya menarik sekali untuk difoto, sayang kemampuan gw terbatas.
nah di tempat di foto yang di sebelah ini nih.......
ceritanya saya minta brenti karena ngedenger suara burung2 di sini rame banget plus jalanan sepi, jadi foto2 dulu deh. Eh gak taunya pas udah naek mobil lagi dan mobil jalan lagi, supirnya baru ngomong, "di tempat ini nih yang biasanya banyak OPM sembunyi" .................................eeeeeee....KOK NGGAK BILANG DARI TADI??????apa jadinya kalo OPM itu khilaf dan lagi pengen latian nembak objek bergerak????
sampe di pos lintas batas, si supir brenti di pos TNI, turun, ngomong2 bentar, dan tau2 4 orang tentara udah duduk di kursi belakang! ternyata tentara2 itu juga mau ikut ke perbatasan, mau foto2 juga katanya.
mumpung lagi kebagian jaga di perbatasan, biasanya di pedalaman, berteman dengan malaria. ternyata keberadaan tentara2 yang jawa banget ini jadi mempermudah perjalanan gw menembus perbatasan. dan bener aja, gw bener2 menembus perbatasan, alias sampe nginjek papua nugini. wondering juga...kenapa gw dibiarin gitu aja ama penjaga2 papua nugini untuk ngelewatin wilayahnya. biasanya yang boleh bebas keluar masuk kan penduduk kawasan perbatasan. jadi karena emang penjagaannya longgar? gw bawa tentara? atau karena gw dikira penduduk asli?????? seitem itukah gw????
ternyata perjalanan ke perbatasan lumayan ngabisin setengah hari, gw sampe di jayapura udah maghrib. tomorrow destination: manokwari.
Manokwari, selain ibukota Provinsi Papua Barat, juga merupakan kota sucinya orang Papua, karena di sinilah misionaris pertama kali masuk ke Papua lewat Pulau Mansinam yang nggak jauh dari daratan manokwari. Kereligiusan kota ini ditunjukkan dengan billboard2 dan tugu2 yang memuat pesan2 keagamaan Kristen dan tentunya dengan Perda anti minuman keras. Di sini minuman keras bener2 dilarang sama pemerintahnya, sampe yang di rumah2 pun nggak boleh nyimpen minuman keras. katanya awalnya gara2 manokwari pernah kacau banget akibat perbuatan orang2 yang mabuk, tapi gw gak tau kejadian persisnya. Mengingat kebiasaan orang papua yang hobi minum banget, pemerintahnya canggih bener ya berani ngelarang?? padahal jayapura aja nggak ada perda kaya gitu. eh ternyata.......terang aja berani....di manokwari penduduk pendatangnya lebih banyak lagi daripada yang asli.
Kota manokwari itu lebih nggak ada apa2nya lagi dibanding jayapura....kecil, sepi, nggak ada hiburan, tapi fasilitas dasar untuk idup cukup tersedia kok. bete-nya,  mungkin karena kebanyakan  pendatang yang tujuan kesini itu untuk kerja, jadinya nggak ada yang  bisa jawab dengan memuaskan  waktu saya tanya tempat wisata di sekitar kota manokwari  ke mana aja atau  siapa orang yang bisa nganterin turis. huhhh...payah deh...gini nih kalo pergi kurang persiapan. padahal sebelum berangkat ke papua gw sempet browsing2, katanya di deket manokwari ada pegunungan arfak yang bisa bird watching di sana. tapi.. seperti yang gw bilang tadi...senekad-nekadnya gw jalan2 sendirian, kagak mau gw jalan2 di hutan papua sendirian. masih agak beruntung gw ternyata sang tenaga ahli UNDP tadi (yang ternyata satu almamater ama gw tapi beda 6 tahun) bersedia nemenin gw jalan2. dia ngajak gw liat pemanggilan ikan di pasir putih. pantai pasir putih itu menghadap ke samudera pasifik, ombaknya kenceng banget bo' dan jelass...keren.
gimanakah cara manggil ikan?? berdiri aja di pinggir laut, lempar rayap, tiup peluit, tunggu sebentar, dateng deh ikannya!!!ajaib. itu cara resminya, dan biasanya emang gitu katanya. tapi kemaren itu gw baru berdiri di pinggir laut aja ikannya udah pada dateng!!!!! nah lo....kok bisa????dan sang pakar pun menjawab....ikannya udah pada kebiasa, begitu liat bayang2 orang aja mereka udah pada dateng, nggak perlu dirayu2 lagi. hehehehehe.... hewan juga bisa punya kebiasaan ya? jadi keinget waktu gw ke Alas Kedaton di Bali (loh kapan gw ke bali???blm ada ceritanya ye???hehehehe...baru2 ini juga sih..nanti deh ceritanya nyusul), sama seperti ikan di pasir putih yang udah jadi objek wisata, monyet2 di alas kedaton juga udah sadar banget bahwa dirinya adalah objek wisata, ada sepasang monyet yang tadinya cuma nongkrong bengong tapi begitu ngeliat kami dateng langsung ngasih pertunjukan yang dijamin akan menarik juru foto....pertunjukan apakah itu??? topeng monyet?sirkus?makan pisang?bukan sodara-sodara...mereka...(maaf bener nih)...ML.
back to Manokwari....
karena nggak puas motret si pawang ikan dari belakang gw berniat untuk motret dari samping. dan melangkah lah gw ke tempat dia berdiri........eitt....cit..cit..cit...gubrakkk!!! pantat pun jadi korban. jadi tolong bedakan diri dengan penduduk lokal ya. kapok kepeleset di pinggir laut gw pun mundur teratur, tentunya dengan gaya jaim...sok-sok ngobrol dulu sama si pawang sebelum mundur. hehehehehe...
ngeliat laut biru kaya gitu gw jadi keinget cerita waktu di Kep.seribu, jadi pengen snorkling lagi. selidik punya selidik, sebenernya nggak jauh dari tempat itu ada terumbu karang, tapi nggak ada snorkling operatornya. sayang ya...lagi-lagi potensi wisatanya ada tapi nggak ada sarananya.
puas bersantai2 mandangin samudera pasifik, saya diajak ke prafi. prafi itu isinya perkebunan kelapa sawit yang pekerjanya kebanyakan transmigran. bener aja, sampe di sana mukanya bukan muka papua semua. kebayang deh kalo lebaran kampung ini pasti kosong melompong. sebenernya tujuan yang nganter saya itu adalah ngajak makan siang ayam goreng kampung (atau ayam kampung goreng?) di prafi. gila ya, untuk mencapai si rumah makan itu jauhhhhhh bener, dan pas liat nama rumah makannya..."sabar menanti". pas bener dah..yang mau makan emang harus sabar menanti tiba di lokasi sedangkan yang punya rumah makan juga sabar menanti tamunya nyampe. tapi durasi dari pesen makan sampe tibanya makanan di meja gak berlaku "sabar menanti" kok. dan thanks God...emang enak. ayamnya manis dan empuk, sambelnya pedes, sayang berasnya jelek.
sayang sekali mbak2 yang mengantar saya jalan2 masih punya banyak PR sehingga setelah beli oleh2 keripik sukun dan keripik keladi saya pun diantar pulang ke hotel.
kayanya masih ada yang belum diceritakan deh.....tapi karena saya juga baru keinget punya PR...sampai di sini dulu dah.

Photo Albumpapua dan papua barat (38 photos)Nov 25, '07 5:12 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo Albumkepulauan seribu (37 photos)Oct 23, '07 7:15 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Eventbali???Oct 10, '07 3:23 AM
for everyone
Start:     Nov 8, '07 4:00p
End:     Nov 11, '07
Location:     liat saja nanti
kaya apa sih "brand"-nya Indonesia???

Photo Albumpangandaran (5 photos)Sep 24, '07 4:09 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Eventlong weekend lagi nihSep 17, '07 2:20 AM
for everyone
Start:     Jan 10, '08
End:     Jan 13, '08

Eventjelajah sukabumi (jabar)-lebak(banten)Sep 17, '07 2:09 AM
for everyone
Start:     Dec 20, '07
End:     Dec 25, '07
Location:     warung kiara, nyalindung, sawarna, ujung genteng, bla..bla..bla
rafting di cicatih, caving di goa buni ayu, relaxing di desa sawarna, ngintip penyu di ujung genteng, dll


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help